JAKARTA– Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora), Mahfuz Sidik menyarankan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) untuk memperkuat posisi geopolitik Indonesia di tingkat internasional. Dia memprediksi, ke depan situasi global semakin memanas dan penuh ketidakpastian.
“Indonesia perlu aktif membaca arah perubahan geopolitik dan memperkuat posisinya dalam tatanan dunia yang tengah bergerak ke arah multipolar,” kata Mahfuz di Jakarta, Minggu (11/1/2026).
Kondisi sekarang ini, katanya, menuntut kewaspadaan Pemerintah merumuskan kebijakan luar negeri (LN). Dia juga mendorong negara-negara mayoritas muslim untuk membangun konsolidasi politik guna menghadapi dinamika global yang kian kompleks.
“Perlu kesadaran kolektif agar negara-negara Islam tidak terus melemah dalam percaturan politik global,” ujarnya.
Mahfuz mengatakan, berbagai perkembangan internasional saat ini harus dibaca secara serius karena berpotensi berdampak luas. Dia menilai, dinamika politik global akan semakin memanas, ditandai dengan banyaknya peristiwa tidak terduga.
“Banyak kejadian yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan kini benar-benar terjadi,” katanya.
Ketegangan global, kata Mahfuz, tidak berhenti pada isu Venezuela, termasuk pengerahan militer Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang diduga bertujuan menekan pemerintahan negara tersebut.
Menurut Mahfuz, pola serupa juga terlihat di Iran. Gelombang demonstrasi yang berlangsung sejak 28 Desember 2025 dan berawal dari isu ekonomi sekarang dinilai mengarah kepada pergantian rezim.
“Iran sekarang ada operasi untuk melakukan pergantian rezim. Fenomena demonstrasi semakin meluas dan cenderung anarkis,” ujarnya.
Selain itu, Mahfuz menyoroti rencana AS untuk menguasai Greenland, wilayah otonom Denmark. Dia menilai, langkah tersebut sebagai strategi AS mengontrol kawasan Arktik sekaligus membendung pengaruh Rusia dan China.
“Greenland merupakan pintu masuk ke Eropa untuk menghadang kekuatan militer Rusia dan China,” katanya.
Mahfuz juga menilai, kebijakan luar negeri Presiden AS Donald Trump mencerminkan ambisi menjadikan Amerika sebagai satu-satunya negara adidaya dunia. Penarikan AS dari puluhan lembaga internasional di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) disebutnya sebagai sinyal kuat perubahan tatanan global.
“Amerika tidak lagi melihat konsep blok dan nonblok. Yang ada hanya kawan atau lawan,” pungkasnya. (Rm/isl)







