MEDAN– Banjir besar yang melumpuhkan hampir seluruh wilayah Kota Medan pada 27 November 2025 tidak boleh menjadi sekadar catatan sejarah. Bencana yang melanda 19 dari 21 kecamatan itu, menurut Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, harus menjadi fondasi penguatan total kesiapsiagaan dan penanganan bencana di Kota Medan.
Rico Waas mengingatkan seluruh perangkat daerah agar tidak melupakan pengalaman pahit tersebut, yang bahkan dirasakan sebagai banjir terbesar oleh warga Medan yang seumur hidup tinggal di kota ini.
Wali Kota menegaskan, kejadian serupa sangat mungkin terulang. Berdasarkan diskusinya dengan Balai Wilayah Sungai (BWS), banjir besar 2025 disebut sebagai siklus 25 tahunan. Namun, dengan kondisi iklim dan cuaca yang semakin sulit diprediksi, potensi bencana dapat terjadi lebih cepat. Karena itu, Pemko menjadikan peristiwa 27 November sebagai bahan evaluasi menyeluruh.
Terkait Standar Operasional Prosedur (SOP), Wali Kota menilai pola koordinasi penanganan bencana perlu disederhanakan agar lebih cepat, taktis, dan efektif. Ia pun mendorong pengembangan aplikasi kebencanaan terintegrasi yang memuat data Early Warning System (EWS), kewilayahan, dan laporan petugas lapangan.
Dalam aspek komunikasi darurat, Rico Waas menyoroti gangguan jaringan yang kerap terjadi di wilayah terdampak banjir. Ia meminta agar solusi teknis disiapkan secara matang, termasuk kesiapan perangkat pendukung komunikasi seperti Starlink, mulai dari penempatan, mekanisme penggunaan, hingga penanggung jawab di lapangan.
Wali Kota juga menekankan penguatan relawan tanggap bencana sebagai bagian dari sistem penanganan yang menyeluruh.
Wali Kota mengakui keterbatasan jumlah personel BPBD menjadi tantangan besar mengingat luas wilayah Kota Medan yang mencapai sekitar 250 kilometer persegi. Pengalaman banjir sebelumnya menunjukkan, konsentrasi penanganan di satu wilayah berisiko membuat wilayah lain terabaikan.
Dalam hal logistik, Wali Kota menekankan perlunya standar makanan dan kebutuhan dasar di lokasi evakuasi yang praktis, bergizi, dan mudah disajikan. Ia meminta BPBD melakukan riset terkait jenis makanan instan dan pemanfaatan teknologi pangan agar penanganan pengungsi berjalan efektif.
Pada aspek sarana dan prasarana, Wali Kota menegaskan perlunya evaluasi dan penguatan peralatan kebencanaan yang masih terbatas. Ia meminta penguatan BPBD, termasuk kendaraan operasional dan peralatan pendukung, dijadikan prioritas. Selain itu, ia mendorong kerja sama dengan komunitas kendaraan off-road melalui pendataan dan MoU, serta menegaskan pentingnya Pemko Medan memiliki kendaraan tangguh banjir sendiri.
Terkait sistem peringatan dini, Rico Waas meminta agar Early Warning System dipersiapkan secara optimal, termasuk penempatan alat di kanal banjir dan titik rawan lainnya. Ia juga menyoroti pentingnya edukasi dan pelatihan evakuasi kepada masyarakat. Menurutnya, masih banyak warga yang menunda evakuasi karena salah persepsi terhadap kondisi bencana hingga akhirnya terjebak.
“Seluruh rangkaian mitigasi, edukasi, dan teknis evakuasi tersebut diminta untuk dituangkan dalam SOP yang jelas dan terintegrasi,” tandasnya. (r/isl)







