MEDAN – Petaka alam yang menghantam 11 wilayah Sumatera Utara tampak terus menumbuhkan kesolehan sosial. Satu per satu tokoh memberi donasi. Bencana memang sering membangkitkan empati serta solidaritas.
Di Medan, M. Arif Tanjung jadi contoh anyar soal itu. Pemerhati sosial itu masuk barisan tokoh Sumatera Utara (Sumut) yang hari-hari ini tampak berlomba menyalurkan kebaikan untuk para korban bencana.
Tanpa kepentingan citra politik, dia menyebut nawaitu menggalang donasi karena sadar dirinya berstatus abdi yang wajib mengatasi masalah sosial dan ekonomi dalam masyarakat.
“Selain bantuan dari negara, saya terharu melihat solidaritas warga yang menyalurkan donasi dan aparat saling bahu-membahu mengatasi banjir kali ini,” tutur Arif Tanjung pada wartawan yang menemuinya di Medan, Selasa sore (09/12/2025)
“Menurut saya,” imbuhnya, “salah satu hikmah hebat di balik musibah dahsyat ini adalah munculnya gerakan kesalehan sosial. InsyaAllah itu menjadi kekuatan yang mendatangkan keberkahan hidup masyarakat se-Tanah Air.”
Menggalang donasi selama sepekan terakhir, Arif Tanjung menyebut
penyaluran bantuan untuk korban bencana sedianya digelar Rabu, (10/12/2025).
“Sesuai anjuran agama saya, yang pertama dibantu adalah korban (bencana) yang (lokasinya) dekat dulu, baru kemudian (membantu) yang jauh,” jelasnya soal alasan bantuan diproritaskan untuk korban banjir di Medan.
Mengorbankan 46.587 jiwa dari 15.753 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di 14 wilayah kecamatan, amuk banjir di Medan pada Kamis (27/11/2025) lalu untuk sementara telah merenggut lebih kurang 12 nyawa.
Petaka terparah sepanjang sejarah Medan tahun ke tahun disambangi banjir kontan membuat ibukota Sumut itu ditetapkan sebagai wilayah darurat bencana.
Pun status ‘darurat’ berakhir Kamis (11/12/2025) mendatang, warga 4 wilayah utara kota itu -Belawan, Labuhan, Marelan, dan Medan Deli- dilaporkan masih diselimuti waswas.
Itu karena BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) mengeluarkan ancaman banjir rob.
“Karena faktor itu pula, wilayah penyaluran bantuan besok dengan puluhan abang becak bermotor berbagai domisili yang berbeda.
Titik pembagian tali asih di jalan air bersih Lingkungan XI Kelurahan Sudirejo I Kecamatan Medan Kota, turut hadir dalam kegiatan tali asih dengan Ibu Berlian Kepling Lingkungan XI Kelurahan Sudirejo I.
Tumpukan paket bantuan siap disalurkan itu masing-masing diketahui berisi sejumlah kebutuhan mandi-cuci plus makanan ringan.
Seiring menyalurkan donasi, Arif Tanjung meminta warga Medan mengulang tradisi kakek buyut tercintanya yang merawat alam beratus-ratus tahun lewat.
Sebagai penghuni kota yang secara geografis rendah, menurutnya sikap itu mutlak.
Mutlak seiring publik mendesak Gubernur Sumut dan Wali Kota Medan cepat menemukan cara jitu paska bangunan kanal senilai Rp 240 miliar di Titi Kuning terbukti tak mampu menangkal banjir yang dramatis.
Dalam perspektif metropolis, Arif menilai Medan seharusnya tak pernah terendam jalanan yang merata. Soalnya, kota itu dikenal sebagai etalase Indonesia bagian barat. Di situ diletak martabat bangsa.
“Mari bersama kerja keras, all-out untuk menciptakan Medan sebagai kota yang aman dan nyaman,”
Tak lupa juga buat kawan dan sahabat yang berpartisipasi untuk berdonasi, semoga Amal Jariyah….Aamiin’ tutup Arif Tanjung. (Red)
