MEDAN – Nasib korban banjir di Kota Medan kembali menjadi sorotan. Edwin Sugesti Nasution, Anggota DPRD Medan dari PAN, mendesak Pemerintah Kota Medan untuk segera menyediakan minimal dua unit perahu karet di setiap kecamatan rawan bencana.
Desakan ini muncul setelah kunjungannya ke korban banjir di Kelurahan Terjun, Medan Marelan, yang mengeluhkan evakuasi yang terlambat dan minimnya sarana penyelamatan.
“Warga, terutama lansia dan anak-anak, terpaksa menunggu lama karena tidak ada perahu untuk dievakuasi. Ini keadaan yang memprihatinkan,” tegas Edwin, mengutip pengaduannya langsung dari masyarakat.
Lebih dari Sekadar Perahu: Darurat Komunikasi dan Bantuan yang Tak Kunjung Tiba
Edwin tak hanya menyoroti kebutuhan perahu karet sebagai alat evakuasi yang krusial untuk mempercepat respons bencana. Ia juga mengungkap dua masalah mendesak lainnya yang memperparah situasi:
1. Nomor Darurat yang “Mati”: Masyarakat mengeluhkan nomor kontak darurat BPBD yang seringkali tidak aktif atau tidak merespons, sehingga menambah kepanikan saat banjir melanda.
2. Korban yang Terlupakan: Di Kelurahan Terjun, Medan Marelan, Edwin menemukan fakta bahwa sejak 27 November 2025, warga sama sekali belum menerima bantuan dari Pemkot. Situasi diperburuk dengan padamnya listrik dan sinyal seluler yang buruk, sehingga mereka benar-benar terisolasi.
“Pemko Medan tidak boleh lengah. Kesiapsiagaan adalah kunci penyelamatan nyawa. Jika tidak serius, nyawa masyarakat taruhannya,” tegas politisi PAN tersebut.
Tuntutan Konkret untuk Penanganan Lebih Cepat
Edwin mendesak langkah-langkah konkret dalam waktu dekat penyediaan perahu karet di setiap kelurahan/kecamatan rawan banjir. Penyiapan SDM terlatih yang siap mengoperasikan perahu.Evaluasi dan pastikan akses nomor darurat berfungsi optimal. Segera turunkan bantuan ke lokasi yang masih terisolasi, seperti di Kelurahan Terjun.
“Kejadian ini harus jadi pembelajaran. Pemerintah harus bergerak cepat karena bencana bisa datang kapan saja,” pungkasnya. (Rel)

Ruangan komentar telah ditutup.